RSS

Siluet Jingga

Selamat Datang di Telaga Inspirasiku....
Semoga kalian menikmati dan menemukan beribu Hikmah di Setiap Jengkal Telaga Inspirasiku..

Join This Site and Load The Guess Book


Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts

Nyanyian Malam

Sunyi adalah malam, tetapi di dalam jubah
kesunyian
mimpi membohongi penantian
Bulan berputar di atas kepala
matanya yang tajam mengamati
hari-hari yang berlalu

***

Biarkan aku membawamu
anak perempuan ladang
ke taman buah sang kekasih
anggur yang kita peras akan memadamkan
bara api kerinduan

***

Tidakkah engkau mendengar burung bul-bul
di luar padang itu
menyenandungkan nyanyian-nyanyian?
Napas perbukitan telah memenuhi langit,
napasnya semerbak dedaunan

***

Engkau tidak perlu takut, kekasihku
sebab tak pernah bintang-bintang di atas sana
mengungkapkan apa yang mereka ketahui
kabut tebal malam berputar-putar
di taman buah itu
mereka menyelubungi rahasia-rahasia kita

***

Engkau tidak perlu takut, pengantin rohku
akan menjelma dari gua gaib
ia akan terbaring dalam tidur panjang,
tak terlihat
oleh apa pun kecuali oleh mata waktu

***

Raja roh, jika ia lewat, biarkan gairah
memberikan dia pujian semestinya
seperti diriku, dia jatuh cinta dan tak akan 
memahami cinta karena dia terbakar juga

(Kahlil Gibran)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Demi Tuhan, Hatiku

Demi Tuhan, hatiku
sembunyikan keinginanmu
lebih baik sembunyikan keluh kesahmu
dari mereka
yang menemuimu

Dia mengungkapkan rahasia
seperti manusia bodoh
Kesunyian dan penyembunyian
lebih baik bagi dia yang mencintai

Demi Tuhan, hatiku, jika seseorang
bertanya, sembunyikan apa yang menimpamu

Jika mereka berkata, hatiku,
"siapa yang dia inginkan?"
Katakanlah, "Dia sudah merayu yang lain."
dan dia tidak akan peduli.

Demi Tuhan, hatiku, selimuti keinginanmu
ketahuilah penyakit ini sudah
membuatmu lemah

Cinta di antara roh
seperti anggur dalam piala kristal
muncul menjadi air
tetapi kebenaran adalah kehidupan

Demi Tuhan, hatiku, tutuplah perhatianmu
kau akan selamat walau lautan menderu dan surga
runtuh

(Kahlil Gibran)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PESAN EINSTEIN BUAT SASTRAWAN MUDA

 Disiplin marketing modern mengatakan, "Ciptakanlah diferensiasi --keperbedaan-- yang menyebabkan dirimu beda dengan yang lain maka kau akan menang!" Jangan jadi tipe all zise, ukuran yang semua orang pakai, jadi jenis kacangan.
 
Di seberang disiplin ilmu lain, Albert Einstein mengatakan, "Persolan tidak bisa dipecahkan di tingkat persoalan itu dilahirkan!"
Artinya, keluarlah dari zona dimana persoalan itu dilahirkan.
 
Mereka yang tinggal di daerah kumuh pasti akan tertimpa banyak masalah sosial, seks harasmen, kekerasan, minuman keras, KDRT, pencurian dan banyak lagi. Maka kalau ingin segera terbebas dari semua yang tak mengenakan ini segera pindahlah ke daerah kehidupan masyarakat normal --meski pun tidak otomatis bebas seratus persen-- setidaknya kejahatan di daerah normal masih pakai kemasan kesantunan.
 
Bagaimana ingin jadi sastrawan remaja yang punya "diferensiasi" kuat, lain dari yang lain? Kembali ke hukum Einstein, pergilah dari zona remaja, supaya kamu berbeda dengan remaja umumnya.
 
Mulailah jadi pembaca "generalis" ya baca cerpen, ya baca psikologi, sosiologi, ekonomi, politik sebagai sebuah "paket" interdisiplin ilmu. Tulisan ini saja sudah mengutip tiga disiplin ilmu: marketing, Fisika Quantum Einstein, sosiologi kekumuhan sosial, dan problem urban (masyarakat kota) yang tadi sya tekankan --kelihatannya saja normal-- namun bukannya otomatis bebas dari kejahatan terselubung.
 
Sastrawan adalah sebutan untuk produk multi dimensional,itulah karya-karya sastra mempunyai kekuatan tembus segala jaman dan persoalan.
 
Tanpa kedalaman, "sastrawan" hanya akan melahirkan karya-karya jamur yang mekar hanya di musim-musim tertentu, setelah itu tenggelam ke lumpur jaman.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MIMPI ITU MASIH ADA

By: Raihan Alam

Mimpi itu masih ada
tersembunyi dalam rinai kehidupan yang fana
bergelayut mesra dalam harapan
menutup semua jalan tak terjamah
ia ada... dan akan tetap ada
mungkin ia terlelap dalam dinginnya rasa
berputus asa dalam ketidakberdayaan raga
menanti genggaman hangat yang menjemputnya
membawanya terbang menemui kenyataan
mimpi itu masih ada....

-di Persimpangan Jalan

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kau dan Aku Terlahir Berbeda

Kau Dan Aku Terlahir Berbeda
Raihan Alam
Hujan turun di atas langit muram, bersama awan gelap yang senantiasa menggelayut di tempatnya kini. Bocah kecil dengan kaki telanjang berlari menerobos derasnya air hujan, hawa dingin menusuk kulitnya yang hanya di lapisi sehelai kain tipis yang sudah sobek disana-sini. Ia terus berlari tanpa menghiraukan tubuhnya yang mulai kedinginan. Ia menggenggam erat sebungkus plastik hitam agar tidak basah. Ia menuju rumah sederhana yang terletak di ujung jalan setapak. Rumah antar rumah jaraknya berdekatan dan kondisinya sama. Sama-sama sederhana. Bocah kecil itu menyerbu masuk dan menghampiri Ibunya yang terbaring di kasur tipis yang mulai luntur warnanya. Ia berikan sebungkus plastik hitam yang sedari tadi ia lindungi dari terpaan hujan yang membasahi badannya. Perempuan itu bangun dan bersandar di ujung kasur.
“Kamu dapat uang ini dari mana Nak?” tanya perempuan itu.
“Deni hari ini mendapat rezki lebih Bu. Jadi Deni bisa membelikan obat buat Ibu. Obat Ibu kan dua hari yang lalu sudah habis.” Bocah kecil itu bernama Deni. Badannya kecil, kulit sawo matang dengan rambut cepak. Sebagai seorang anak, ia senantiasa berbakti pada perempuan yang telah melahirkannya itu.
“Terima kasih Nak. Kamu sudah banyak sekali membantu Ibu. Ma’afkan Ibu yang tak mampu membahagiakanmu. Tak mampu menyekolahkanmu. Kamu masih punya cita-cita untuk sekolah kan Nak?” Ibu menatap Deni lekat-lekat. Dilihatnya wajah anaknya itu, air matanya meleleh bila teringat kejadian di masa lalu. Terutama bayangan kematian suaminya akibat kecelakaan saat bekerja menjadi sopir. Pasca itu, kehidupannya semakin terpuruk. Ia tak mampu lagi membiayai sekolah dua anaknya. Hingga akhirnya mereka putus sekolah. Kontrakan nunggak dan diusir dari rumah kontrakan. Deni, anak keduanya sehari-hari bekerja sebagai pengamen jalanan. Mengais rezki dari belas kasihan orang lain. Anak pertamanya, semakin tak karuan. Ia tak pernah ada di rumah. Ia pulang bila ia sedang butuh uang saja. Hatinya sedih. namun inilah takdirnya. Ia harus mampu menghadapi semua ini dengan tabah dan sabar.
“Deni masih tetap pingin sekolah Bu. Tapi Deni lebih bahagia bila melihat Ibu bahagia. Masalah sekolah tidak usah dipikirin Bu. Deni sudah menyisihkan sebagian uang hasil mengamen setiap hari untuk nantinya Deni gunakan melanjutkan sekolah.” jelasnya. Ia memang berbeda dari kakaknya yang sehari-hari kerjanya hanya menadah hasil mengamen anak-anak jalanan. Pernah suatu ketika Deni memergoki kakaknya itu merampas hasil keringat teman-temannya. Dan ia pun dibuat babak belur oleh teman-teman kakaknya. Dalam hati kecilnya, Deni masih berkeinginan untuk melanjutkan sekolahnya. Tapi ia tak mau berharap tinggi-tinggi. Tercukupinya biaya hidup sehari-hari Ibu dan dirinya sudah sangat membahagiakan hatinya. Ia tahu, hasil mengamen di jalanan tidaklah cukup untuk melanjutkan sekolah. Apalagi biayanya semakin hari semakin mahal. Meskipun sudah banyak beasiswa yang diperuntukkan bagi anak-anak sepertinya, namun dalam kenyataannya pembagian anggaran untuk pendidikan tersebut tidaklah merata. Ia hanya akan menunggu datangnya keajaiban itu, dengan nestapa. Bagai punguk merindukan bulan.
“Nak, cepet ganti baju sana. Jangan sampai kamu kedinginan.” suara Ibu membuyarkan lamunan Deni yang sedari tadi mematung dengan baju basah yang masih melekat di tubuhnya. Ia lalu bergegas masuk kamar, berganti pakaian dan kembali ketempat Ibunya untuk menemani.
“Nak, apa kamu tadi ketemu kakakmu?” tanya Ibu ketika Deni duduk disampingnya.
“Tidak Bu, beberapa hari ini Deni tidak melihat kakak. Sudah Deni cari ke tempat-tempat tongkrongan yang biasanya dijadikan tempat berkumpul kakak dengan teman-temannya. Tapi belum juga ketemu.” jawab Deni sedih. Sudah beberapa hari ini Ibu memikirkan kakak Deni. Ibu ingin bertemu dengan kakaknya. Ia merindukannya. Sebagai seorang anak pertama, kakak Deni sangat diharapkan oleh Ibu untuk bisa membantu adiknya dan keluarganya.
“Nanti kalau ketemu kakak kamu, bilang Ibu kangen sama dia. Ibu ingin ketemu.” kata Ibu dengan nada pilu.
“Iya Bu. sekarang Ibu istirahat yah. Biar Ibu sembuh.” Deni berlalu meninggalkan Ibunya yang terlelap dalam keheningan. Dalam balutan rindu akan anaknya yang tak kunjung datang.
Deni melangkahkan kaki ke jalan setapak, melewati terowongan kecil yang gelap. Dan tibalah ia di perkampungan padat penduduk. Di samping kanan kirinya berdiri cafe-cafe kecil yang menyuguhkan beribu minuman keras dengan berbagai jenis. Serta gadis-gadis pelayan yang dengan sigap memenuhi permintaan para tamunya.
Ia menuju cafe kecil yang terlihat paling jarang dikunjungi tamu. Hanya ada beberapa orang yang menenggak bir. Dengan berbincang-bincang sesamanya.
“Kak, Ibu ingin kakak pulang....” ucap Deni seraya menepuk bahu kanan kakaknya. Laki-laki itu menoleh. Ia terkejut melihat adiknya telah berdiri di belakangnya.
“Berapa kali harus kakak bilang! Kakak tidak mau pulang! Bilang itu pada Ibu!” bentak lelaki itu. bau alkohol menyembur dari mulutnya.
“Tapi kak. Ibu rindu sama kakak. Ayo kak, sekali ini saja!” Deni tak mau kalah.
“Pulang sendiri sana! Bilang sama Ibu, jangan cari-cari kakak lagi! Anggap saja kakak sudah mati!” kalimat itu meluncur dari mulutnya yang teracuni oleh botol bir yang dipegangnya. Lelaki itu mendorong Deni hingga terjerembab di tanah. Deni bangkit. Dan mendekati tubuh lelaki itu.
“Kenapa kakak berbicara seperti itu? Bukankah dulu kakak yang paling sering menghibur Ibu? Kenapa kakak berubah setelah kita jatuh miskin?”
“Kau dan Aku berbeda Deni! Aku tidak mau jadi orang miskin. Aku ingin bebas! Aku ingin pergi kemanapun yang aku mau, tanpa kalian bebani!”
“Kakak keterlaluan, apa kakak tidak merasa kasihan melihat Ibu seperti sekarang. Tak berdaya melihat keadaan keluarga kita yang semakin hari semakin susah. Sudah menjadi kewajiban kita sebagai anak-anaknya untuk membalas budi Ibu, yang sudah mengandung dan melahirkan kita. Yang sudah merawat kita sampai seperti ini.”
“Balas budi katamu? Untuk apa? Toh, aku disini bisa hidup dengan usahaku sendiri. Bukan hasil meminta-minta dari Ibu. Memang pernah sih, sekali dua kali. Tapi kakak kan terpaksa.” Ujarnya dengan santai.
“Kakak jahat! Kakak tega membiarkan Ibu sakit! Kakak tidak punya hati nurani! Deni benci kakak!”
Deni berlari keluar cafe dengan uraian air mata. Hatinya terpukul melihat kakaknya kini bukan seperti dahulu, yang selalu memberikan semangat pada Deni untuk terus sekolah. Ia melewati terowongan. Lalu memasuki rumah dengan hati-hati agar tidak membangunkan Ibunya yang sedang istirahat.
Ia merebahkan punggungnya di papan kayu tempatnya bersandar di kala malam. Ia merenungi setiap kejadian yang telah ia lewati hari ini. Betapa kejam hidup ini. Betapa marah dan sedih ia melihat tingkah laku kakaknya kini, yang seharusnya menjadi panuatannya dalam menjalani hidup. Perlahan ia mulai memejamkan mata. Hingga semua kesadarannya larut dalam kesunyian malam itu. Binatang-binatang malam keluar dari sarangnya. Menguasai pekatnya kehidupan.
“Ibu,Deni berangkat dulu yah. Do’akan Deni semoga hari ini Deni dapat rezki lebih. Deni pamit....” katanya seraya mencium tangan Ibunya.
“Amiin.... hati-hati di jalan ya Nak,” kata Ibu melepas kepergian Deni. Ia ikuti pandangan matanya melalui langkah-langkah Deni hingga benar-benar hilang.
Braaaakkkkk!!!!! Suara daun pintu terbanting. Seorang lelaki telah berdiri di sana dengan pandangan tajam menghujam dalam. Menyebarkan pandangannya mengelilingi seisi rumah.
“Anakku, kemana saja kamu selama ini. Ibu kangen kamu....” Ibu berlari menghampiri lelaki itu. dan berusaha mendekapnya. Namun tidak disangka ia menampik tubuh Ibunya dan perempuan itu tersungkur tak berdaya. Tubuhnya mencium tanah. Lelaki itu berjalan ke sebuah lemari kayu yang terongok di sudut ruang tamu. Ia mengobrak-abrik isi di dalamnya.
“Kamu mencari apa Nak? Ibu sudah tidak punya apa-apa lagi,”teriaknya.
“Mana uang tabungan Deni Bu? Ibu simpan dimana?” kata lelaki itu dengan nada tinggi.
“Ibu tidak tahu Nak, buat apa kamu meminta uang adikmu. Itu kan hasil keringatnya sendiri. Kamu tidak berhak untuk mengambilnya.” kata Ibu mengingatkan.
“Jangan banyak ceramah deh Ibu! Cepetan, katakan dimana Deni menyimpan uang tabungannya!” bentak lelaki itu pada Ibunya. Ia mengumpat tak karuan. Barang yang diinginkannya tak juga dia temukan.
“Kalau memang Ibu tidak mau memberitahukannya padaku. Biar aku yang akan memaksa Deni untuk buka mulut!” sungutnya. Ia pun berlalu meninggalkan Ibunya yang terkapar di tanah. Tak berdaya melihat anak yang dirindukannya pergi dengan membawa amarah didada. Ia kini mengkhawatirkan Deni. Ia tak henti-hentinya berdo’a agar Deni dilindungi dari segala bahaya yang mungkin saja dapat di perbuat oleh anak pertamanya itu. Ia tahu anaknya itu akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan hal yang diinginkannya. Apalagi uang. Hatinya miris, bercampur irama yang naik-turun tak karuan.
Di pertigaan lampu merah, ketika Deni sedang mengamen, tiba-tiba lelaki itu menyeret tubuh Deni ke ruang kosong yang jauh dari keramaian. Ia mencengkram leher Deni.
“Mana uang tabungan hasil kerjamu selama ini? Berikan padaku! Aku butuh uang!” dengusnya.
“Apa-apaan kakak ini, aku tidak punya uang yang kakak bicarakan itu. Uang Deni semuanya sudah Deni gunakan untuk biaya pengobatan Ibu.” jawab Deni mengelak.
“Jangan bohong kamu! Kakak akan beri kamu pelajaran, karena berani melawan kakak!”
Brukk!!! Bakkkk!!! Hantaman demi hantaman bersarang di tubuh mungil Deni. Lelaki itu tanpa ampun melayangkan bogem mentahnya ke arah Deni. Membuatnya terkapar bersimbah darah. Ia menendang kaki deni, hingga terdengar suara tulang deni yang patah. Lelaki itu terus menghajar deni hingga tak berdaya. Setelah puas melampiaskan amarahnya. Ia pun akhirnya pergi meninggalkan adiknya itu. Pergi tanpa dosa dan perasaan bersalah. Teman-teman Deni yang melihat kejadian tersebut langsung menggotong tubuh Deni yang penuh luka. Menuju rumah sakit terdekat. Namun sekali lagi, kemiskinan kadang membuat mereka harus menelan pil pahit, mereka ditolak dan terpaksa mereka harus mencari klinik yang bersedia menerima orang miskin seperti mereka.
Setelah berajam-jam akhirnya Deni mendapatkan perawatan medis. Ibu Deni langsung bergegas menuju klinik begitu diberitahu bahwa anaknya itu digebuki oleh kakaknya di jalan. Ia cemas. Karena kini hanya Deni lah satu-satunya harapan bagi kebahagiaan hidupnya.
Deni dibawa pulang. Ia kini harus menerima kenyataan bahwa salah satu kakinya lumpuh karena tulangnya patah. Namun ia tetap tegar dan sabar, ia meyakinkan Ibunya bahwa hanya dengan satu kaki yang tersisa ia masih mampu mencari nafkah seperti sebelumnya. Ia juga akan terus berusaha mewujudkan mimpinya untuk melanjutkan sekolah. Ia berterima kasih pada Ibunya karena telah menjaga uang tabungannya selama ini dari nafsu serakah kakaknya, yang tega membuatnya seperti ini. Yang tega membiarkan mereka menderita.
“Ibu bangga padamu Nak, Ibu bahagia memilikimu....”
“Deni akan tetap berusaha mengajak Kakak pulang ke rumah ini lagi Bu,”
“Kalau memang kakakmu itu tidak mau pulang, biarlah ia menjalani hidupnya di luar sana. Mungkin itulah yang di inginkannya. Ibu tidak akan memaksanya lagi. Bagi Ibu, keselamatanmu adalah hal yang paling berharga dalam hidup Ibu.” katanya dengan nada kepasrahan. Deni merasakan ada bias kecewa di mata ibunya itu terhadap sosok kakaknya yang memang sudah sangat keterlaluan.
“Tidak Bu, selama Deni masih bisa berjalan. Deni akan selalu menepati janji Deni pada Ibu.”
“Kamu memang anak Ibu yang paling berharga. Ayah di atas sana pasti tersenyum bahagia melihatmu seperti sekarang. Tumbuh menjadi anak yang bertanggung jawab. Seperti Ayahmu. Kamu dan Kakakmu memang terlahir berbeda.” Ia memandang Deni dengan mata berkaca-kaca. Ia takjub melihat perkembangan anaknya itu.
Di atas hamparan aspal jalanan, ditempa kerasnya rintangan yang menghadang, serta dibayang-bayangi pergaulan anak jalanan yang semakin menjadi, Deni mampu menjadi pembeda di antara teman-teman seprofesinya. Ia bagai ilalang di Padang Pasir. Yang mampu bertahan hidup di tengah panasnya udara yang membakar.
Hari-hari berikutnya dilalui Deni dengan ceria. Ia tak mau menampakkan wajah sedih di depan Ibunya, meskipun ia sering menagis bila melihat keadaannya kini. Teman-teman seperjuangan Deni menerima keadaan Deni yang cacat. Mereka semakin berempati terhadap Deni. Mereka tak henti-hentinya membantu Deni untuk terlepas dari kesedihan yang dirasakannya. Hidup yang kini dalam keterbatasan tak lantas membuat Deni patah semangat. Ia malah terpacu untuk membuat kakaknya tersebut sadar bahwa yang dilakukannya selama ini adalah kesalahan. Dalam hati kecilnya, Deni memiliki harapan agar suatu saat nanti kakaknya mendapatkan hidayah dari Tuhan dan ia kembali ke jalan yang benar. Dan tentunya kembali berkumpul bersama mereka seperti sedia kala. Sebagaimana yang dirindukan oleh Ibu selama ini. Ia tidak ingin melihat Ibunya yang semakin tua dan semakin lemah, hidup dalam kesedihan dan kesendirian. Merana karena ditinggalkan buah hatinya yang seharusnya menjadi pelita hati seorang Ibu. Sebuah harapan mulia dari seorang bocah yang berkeinginan untuk membahagiakan seorang Ibu.
Semarang, 17 Desember 2011

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Rumah Kertas di Kota Atlas



By : Raihan Alam
Awan bergumul membentuk sebuah lukisan di langit biru. Sisa-sisa hujan membekas dalam pancaran pelangi yang membentang jauh menancap bumi. Gemerlap lampu kehidupan kota Atlas menjadi sebuah pemandangan yang kontras dengan kehidupan jalanan yang selalu membayangi. Seorang lelaki tua mengayuh sepedanya ke sebuah rumah kecil berdinding papan yang dihiasi dengan kertas-kertas warna. Dilihat dari jauh rumah itu bagaikan istana kertas yang bersembunyi di bawah sebuah jembatan tua. Banyak warga miskin sepertinya yang tak punya tempat berteduh dan terpaksa hidup di kolong jembatan. Mereka menyulap kolong jembatan yang kotor menjadi tempat tinggal yang nyaman serta menghiasi dindingnya agar mereka betah tinggal disana. Sebuah langkah kaki kecil mendekatinya. Lelaki tua itu tersenyum.
“Bapak sudah pulang. Ibu, Bapak pulang....” teriaknya girang. Gadis kecil itu memeluk erat dalam dekapan bapaknya.
“Ibu mana? Dinda sudah makan?” tanya lelaki itu. Gadis kecil bernama Dinda itu hanya bisa menggeleng pelan. Ada raut bias di mata lelaki itu. Ia tahu, hari ini ia belum memberikan apa-apa untuk keluarganya. Ia merogoh saku celananya. Berharap menemukan sesuatu untuk diberikannya pada istri tercinta. Namun tiada yang dapat ia temukan, selain selembar uang lima ribuan. Hasil dari menukarkan besi tua yang ia cari sehari ini. Ia sadar pekerjaanya sebagai tukang besi tua tidaklah begitu menjanjikan. Ia tak akan bisa mengangkat derajat ekonomi keluarganya. Ia pandangi sepeda tua yang setia menemani perjalanan hidupnya, besinya sudah karatan. Beberapa bagian sudah aus dan minta diganti. Tapi ia tak ada uang untuk memperbaikinya. Untuk kehidupan sehari-harinya saja terkadang masih belum terpenuhi. Apakah nasib sepeda ini nanti akan berakhir di penukaran besi tua. Pikirnya dalam hati. Sepeda itulah penopang kehidupan mereka. Ia saksi bisu akan kerasnya perjuangan yang dialami oleh penunggangnya. Orang-orang pinggiran seperti dirinya sebenarnya belum siap menjadi orang kota karena modalnya pas-pasan. Bahkan seringkali dianggap pemerintah sebagai sampah. Namun ia tak sanggup berbuat apa-apa. Yang ia bisa hanyalah berdo’a dan berusaha.
“Pak Rohim. Bisa tolong bantu saya? Lampu di rumah mati, saya nggak bisa benerin.” suara wanita muda membuyarkan lamunanya. Ia cepat-cepat merubah posisi duduknya. Ia lalu mengikuti langkah perempuan itu. Rumahnya tak seberapa jauh. Di kampung itu, Pak Rohim terkenal ramah dan suka menolong. Warga pun tak segan untuk memintanya mengerjakan sesuatu pekerjaan yang tidak mereka kuasai.
Malam semakin gelap, ketika Pak Rohim bercengkrama dengan anak dan istrinya. Meski kehidupannya serba susah, ia tak pernah mengeluh. Ia selalu memberi teladan bagi keluarganya, agar tetap bergembira meski dalam keadaan sesulit apapun.
“Bu, seandainya Bapak menjual sepeda itu, lalu uangnya kita jadikan modal untuk berdagang, menurut Ibu bagaimana?” tanya Pak Rohim pada istrinya. Hal yang selalu membuat istrinya takjub adalah perilaku Pak Rohim yang santun dan terbuka. Ia selalu mempertimbangkan suatu hal pada keluarga sebelum ia mengambil keputusan. Sebuah kepala keluarga yang berjiwa besar.
“Ya, kalau menurut Bapak itu baik, Ibu manut saja Pak.” jawab istrinya lembut.
“Begitu ya Bu. Kalau begitu nanti Bapak pikirkan lagi. Sekarang kita tidur. Sudah larut malam.” mereka pun masuk ke rumah kertas. Tenggelam dalam peraduan sunyi. Ditemani senandung nyanyian alam dari makhluk penguasa malam.
* * *
Pagi belum juga menampakkan sinarnya. Hawa malam masih terasa menusuk kulit. Namun sepeda tua Pak Rohim sudah berdiri gagah menunggu penunggangnya. Pak Rohim melajukan sepedanya menyusuri bantaran kali Semarang. Jalan yang ia lalui lebarnya hanya sekitar tiga meter. Itu pun hanya mampu dilewati oleh satu sepeda motor. Belum lagi bangunan yang terbuat dari papan dan triplek yang berjajar sepanjang jalan. Terlihat sebagian orang sibuk bolak-balik membongkar perabotan rumahnya. Mereka mengumpulkan barang-barang mereka dalam gerobak. Pak Rohim menghentikan laju sepedanya. Ia menghampiri seseorang yang tengah sibuk menumpuk kayu dan seng dalam sebuah karung besar.
“Ada apa ini Pak, kok pada bongkar-bongkar?” tanya Pak Rohim heran.
“Ini mau pindahan Pak. Takut digusur paksa oleh Satpol PP. Beberapa kali mereka kesini memberi peringatan.” jawabnya lugas. Lelaki itu meminta izin untuk menyelesaikan pekerjaannya. Pak Rohim menghela nafas. Dalam. Sudah sering ia mendengar berita tentang penggusuran paksa dengan dalih penertiban. Ia bingung mengapa pemerintah tak pernah memperhatikan nasib orang pinggiran seperti mereka, yang butuh tempat tinggal. Mereka hanya bisa membongkar perkampungan kumuh tanpa dapat memberikan solusi yang lebih baik. Tidak menyediakan tempat gnati yang layak. Maka, jangan heran bila setiap kali penertiban, akan ada kampung-kampung kumuh baru yang menjadi pelarian mereka. Pak Rohim pun melanjutkan perjalanan. Di tengah-tengah jalan, pikirannya berkecamuk. Ia takut hal yang sama terjadi pada warga di kampungnya. Ia tak pernah berharap. Ia susuri lorong demi lorong. Melewati kanal yang memanjang, menyajikan aroma tak sedap dari air yang kotor dan keruh. Dilihatnya sebuah besi tua terongok di pinggiran kanal. Ia mencoba mengambilnya. Ia nyemplung ke dalam air, berkubang dengan limbah dan sampah demi sebatang besi yang beratnya hanya beberapa kilogram. Pak Rohim tak menghiraukan pandangan pejalan kaki, maupun warga sekitar yang memandang sinis ke arahnya. Yang terpenting baginya adalah hari ini ia bisa membawa pulang hasil jerih payah untuk anak dan istrinya di rumah. Dengan celana yang basah, ia melanjutkan perjalanan.
Saat ia memasuki kawasan kota lama, ia melihat sebuah bangunan tengah dalam masa renovasi. Dengan beberapa pekerja yang sedang mempoles dinding luarnya. Ia mendekat, dan bertanya pada mandornya agar di perkenankan untuk bergabung meski cuma sehari.
“Saya siap dibayar berapapun Pak, asalkan saya bisa bekerja disini barang sehari” kata Pak Rohim meyakinkan. Ia memang butuh uang. Jadi apapun akan ia lakukan selagi caranya halal. Dengan berat hati pak mandor mengizinkannya.
“Besok lusa, kamu kesini lagi yah. Kami memang sedang mencari pengganti seorang pekerja kami. Ini bayaranmu hari ini.” kata Pak mandor seraya memberikan uang lima puluh ribu kepada Pak Rohim. Ia senang bukan kepalang, seketika itu ia mencium tanah, bersujud sebagai bentuk syukur atas anugrah Allah yang tak disangka itu. Ia pun berterimakasih lalu berlalu pulang. Ingin ia cepat pulang dan memberikannya pada istri dan anak di rumah.
Selepas maghrib, Pak Rohim membicarkan lagi hal tentang menjual sepeda dan niatnya untuk berdagang kecil-kecilan. Dengan rezki yang ia peroleh hari ini, dan atas izin sang istri, ia pergi mencari tempat yang cocok buat daganganya besok. Di pelataran masjid Baiturrahman lah tempat yang dipilih. Malam itu juga ia mendirikan tenda, mencari kayu yang berserakan di sekelilingnya. Untuk hari pertamanya berjualan, tak perlu besar. Cukup sederhana saja. Yang penting ada niat.
“Loh, apa-apaan ini? Kok semuanya berantakan?” kata Pak Rohim panik. Ia heran melihat paginya, tenda yang susah payah didirikan semalaman, porak-poranda di robohkan orang. Ia bertanya pada pedagang samping kanan-kirinya. Tapi tak ada yang tahu. Akhirnya ia terpaksa mendirikan kembali bangunan itu.
Tiba-tiba dua orang preman mendatangi tendanya dan menggebrak meja.
“Hey! Bapak jangan seenaknya mendirikan jualan disini! Ini wilayah kami! Jadi siapapun yang berjualan disini harus izin dulu sama kami! Juga harus membayar uang sewa keamanan!” bentak dua lelaki itu. Pak Rohim tak mengerti apa yang terjadi.
“Apa kalian bilang? Membayar? Dari dulu yang aku tahu, pelataran ini tak ada pemiliknya. Aku sudah memastikan itu semalam. Dan kata pihak masjid dibolehkan.” jelas Pak Rohim dengan nada tinggi. Tentu saja ia tak terima. Ia merasa diperlakukan tidak adil. Ia merasa punya hak untuk berdagang di mana saja.
“Jangan membangkang! Bayar atau kami hancurkan dagangan Bapak!”
“Silahkan kalau berani! Saya tidak takut!” Pak Rohim bersiaga.
Pak Rohim menghadang laju kedua lelaki itu, namun tak disangka beberapa preman datang membantu dan meluluh lantakkan modal Pak Rohim yang baru saja dibeli dengan uang hasil keringatnya. Dengan tanpa perasaan preman-preman itu membanting barang dagangan yang belum sempat dijual. Lalu mereka pergi setelah puas membuat Pak Rohim babak belur. Tak ada yang berani mencegah. Apalagi menolong. Hati Pak Rohim terenyuh melihatnya. Kenapa setiap orang membiarkan ketidak adilan ini. Apa meraka pura-pura tidak tahu, agar keselamatan mereka terjamin. Sungguh biadab orang-orang seperti mereka. Pak Rohim merintih kesakitan.
Alhamdulillah, di hari pertamanya berjualan, Pak Rohim  mampu mengantongi  penghasilan uang yang bisa digunakannya untuk menyambung hidup keluarga. Istrinya memperhatikan wajah Pak Rohim yang hitam lebam di beberapa bagian.
“Bapak habis di keroyok preman yah? Kok luka-luka?” tanya istrinya penuh selidik. Ia menyentuh lembut dagu lelaki itu. mengusapnya pelan.
“Nggak apa-apa Bu, cuma sedikit kesalah pahaman.” jawabnya enteng. Ia lalu duduk di luar rumah. Memandang jauh ke arah langit malam. Kini tak ada lagi sepeda tua yang menghiasi istana kertasnya. Tapi tak apa lah, ia ikhlas. Yang penting kini ia sudah memiliki hasil yang lumayan, dari pada sebelumnya. Batinya
 Ia teringat akan janjinya pada Pak mandor tempo hari. Ia merenung, batinya bergejolak. Apakah ia harus menerima tawaran menjadi tukang bangunan, ataukah ia menolaknya karena ia kini telah memiliki usaha dagangan. Kalau ia menolaknya, itu berarti ia tidak mensyukuri nikmat Allah. Banyak orang di luar sana yang membutuhkan pekerjaan. Sebuah ide terpikir di benaknya. Ia panggil istrinya. Ia berdiskusi dengan perempuan yang setia menemani hidupnya itu. Ia ingin istrinya sementara menggantikan berjualan, sedang ia bekerja di pembangunan. Setelah tugasnya selesai, ia akan kembali mengambil alih dagangannya. Tapi ia masih takut bila preman pasar itu kembali mendatanginya. Istri Pak Rohim dengan ikhlas dan patuh menerima amanat yang di berikan suami tercinta. Baginya, tak ada yang lebih membahagiakan selain dapat membantu dan berbakti pada suami. Selama ini, suaminya yang banting tulang, memeras keringat untuk mencukupi kehidupannya. Kali ini saatnya untuk ikut andil dalam meringankan beban suaminya. Agar dapur keluarga mereaka tetap dapat mengepulkan asap. Tegasnya dalam hati.
Pagi itu mentari datang lebih cepat. Pak Rohim dan istrinya bersiap berangkat bekerja. Tak lupa Dinda anak semata wayangnya juga ikut dibawa. Agar ia bisa belajar menghadapi kenyataan hidup yang begitu keras ini. Agar mentalnya tertata sejak dini. Pak Rohim menghampiri istri dan anaknya. Perlahan ia mendekatkan wajahnya pada pendamping hidupnya. Ia kecup keningnya. Lalu turun. Dan mengecup lembut wajah anaknya. Bismillah.... Mereka berjalan beriringan. Dengan niat fii sabilillah mereka menantang kerasnya kehidupan jalanan kota Atlas.
Semarang, 20 Desember 2011

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS